Postingan

Untuk Eyang Sapardi Djoko Damono

Gambar
Bulan lalu saat hatiku merindu di bumi Jatinangor, air mataku mengucur ditemani sajak mu yang membuat suasana semakin merajalela.  Ku senandungkan dalam kata-kata "Sapardi tak keliru, hujan bulan Juni mengandung rindu" Bulan lalu, saat seorang sahabat mengulang hari lahir bahagianya, ku selipkan sajak indahmu dalam surat yang kukirim padanya, tulisku "yang fana adalah waktu, kita abadi" sambil ku sematkan nama indahmu.  Beberapa waktu lalu,  Di lini masa instagramku, terpampang perpaduan wajah Eyang bersama seorang yang juga ku kagumi, Joko Pinurbo.  Betapa bahagianya diri ini melihat kedua idolaku bersama. Senyumku merekah membayangkan akan seperti apa jika aku berhasil berbincang dan bertukar pikiran dengan beliau-beliau ini.  Masih ada kerinduan hati yang belum sampai, mendengar Eyang membaca larik-larik indah puisi secara langsung. Satu penyesalan dalam diri karena impian bertemu dengan mu tak lagi bisa kuwujudkan. Hanya melalui p...

Murid Kelas Satu - Puisi

Gambar
Suatu malam di sebuah kota kecil bernama Jatinangor, seorang gadis terisak pelan dengan pipinya dibuai lembut hujan bulan Juni. Sapardi tak keliru, hujan bulan Juni mengandung rindu, membelenggu kesendirian bermandi cahaya purnama di bawah cakrawala. Sang gadis perlahan mengatur nafasnya, pelan-pelan matanya terpejam, tak main-main rindu semakin menggebu-gebu, bak sang raja siang kembali ke peraduan terburu-buru, kala kita menikmati senjanya sore itu. Ketika insomnia menyerang, imajinasi kembali bersarang. Insomnia seolah tak kenal lelah merecoki alam bawah sadar sang gadis Seperti sebuah ritual, dirinya akan hanyut bermain bersama fantasi. Tak ada saksi, segala membisu, hanya dirinya dalam imajinasi mencoba mengitari dunia tanpa sisi. Perasaannya tak menentu, semacam gelora rindu yang menyeru. Tiba-tiba saja ia rindu menjadi anak kelas satu. Di sebuah sekolah dasar dia disambut sebagai murid baru. Sang gadis rindu menjadi lugu, tersipu malu-malu di hadapan guru, d...

KANDAS - Cerita Pendek (Cerpen)

Gambar
Senyap malam kali ini tiada tanding. Jangkrik seolah enggan adu suara tak seperti sedia kala. Malam yang panjang pun akan berlalu juga, desahku. Berbaring di atas dipan lalu berdiri menghadap bulan, kuulangi aktivitas seperti orang linglung tersesat di pikiran sendiri. Apa yang kau sesali? Bukankah semua ini inginmu? Sudah terjadi kenapa malah bersedih? Batinku seolah meronta-ronta tak sanggup menerima keputusan yang kuambil siang tadi kala perdebatan panjang dengan Ibu. Tok..tok…tok…, “ Mas.. ” suara lirih ibu terdengar di balik pintu kayu sebuah kamar kecil yang ku huni. “ Tak apa, ibu akan baik-baik saja tadi hanya terbawa emosi. Pergilah Mas, kejar anganmu ”, wanita renta itu mengakhiri ucapannya lalu berdeham pelan. Lambat laun tak terdengar suara sama sekali. Aku berjalan menghampiri sosok di balik pintu yang ku yakin masih menunggu kehadiranku. “ Aku pasti pulang bu, tak usah gusar hati mu. Anakmu ini tahu diri. Kelak saat aku pulang ku belikan songket seperti Bi...

Celotehan Berbobot Najwa Shihab dan Agnes Mo: Tentang Perempuan dan Anak Muda

Gambar
Isu tentang kesetaraan gender sepertinya masih akan terus hangat dibicarakan di ruang publik selama komparasi antara pria dan wanita terus terjadi. Patriarki yang mengakar memang akan menjerumuskan kita pada kesalahan berpikir tentang bagaimana posisi dan kodrat pria dan wanita seharusnya berada. Munculnya gerakan feminis sebenarnya bukan mengerdilkan derajat kaum adam melainkan empowering wanita sebagai kaum yang setara namun tidak sama dengan pria. Bicara tentang kesetaraan bukan berarti persamaan. Perbedaan adalah karakter yang memang wanita dan pria harus terima. Isu kesetaraan tidak sebatas sama-sama harus berada pada posisi yang sama, tapi menitik beratkan pada keadilan dalam setiap perbedaan yang ada. Setelah menonton video Youtube di channel Narasi yang berisi celotehan berbobot antara Najwa Shihab dan Agnez Mo, saya semakin percaya bahwa baik wanita maupun pria memiliki freedom untuk bermimpi. Siapa pun bisa menjadi apa yang dia impikan tidak terkecuali wanita dan...

BJ. Habibie, Si Mata Jenaka Itu Kini Bersua Kembali Dengan Gula Jawa-nya

Gambar
Setelah kepergian Ibu Negara Indonesia ke-6 mendiang Kristiani Herrawati atau akrab disapa Ani Yudhoyono pada 1 Juni 2019 lalu, Indonesia kembali mengibarkan bendera setengah tiang. Lambang berkabungnya negri ini. Ibu pertiwi kembali menangis melepas duka atas kepergian salah satu Putra terbaiknya, BJ. Habibie pada Rabu, 11 September 2019 di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, bapak teknologi Indonesia juga seorang ilmuwan kelas dunia yang pola pikirnya tak main-main memandang masa depan. Cita-cita dan visi-misi nya memberantas keterpurukan bangsa ini dari segala persoalan yang terjadi. Masa jabatan BJ. Habibie sebagai presiden memang menjadi periode paling singkat dalam sejarah pemerintahan Indonesia, namun kebijakan-kebijakannya ‘bersuara’ bahkan di kancah internasional. Wajar saja kepergian Habibie menggemparkan seluruh nusantara bahkan luar negri. Jasa, ilmu, serta pemikiran yang beliau titipkan selama hidupnya akan menjadi ase...

Perasaan yang lupa kau tuai - Puisi

Lama tak bermain dengan kata-kata Jelas terasa sangat nyata Apa gerangan, masih ku belum berpaling dari mu Tentang mu masih sempurna terlukis di kanvas ingatan ku Aku di sini, kota kecil di tanah Pasundan Kamu di mana? Ibu kota terlalu luas untuk ditelusuri Rindu ku padamu tak bertuan Rasa muncul namun tak punya tempat untuk pulang Rindu tak bertuan, Tak tau arah kemana harus pulang Ulangi lagi ingin ku perbaiki Kesalahan, kekanak-kanakan, ingin ku buat sempurna Mengapa rasa gugur, tak bersemi? Adilkah menanggung rasa seorang diri? Ingin ku berlari, teriak menerjang badai Mengapa semudah itu kau lupakanku? Sudahkah hancur lebur kenangan kala itu? Aku merasa hanya jadi korban Korban perasaan yang kau tanam, namun lupa untuk kau tuai - devi Simbolon

Ketika Merindu Dirindukan - Puisi

Tentang rasa yang bersemayam Tak pernah ia tanya siapa yang jadi tuannya Hadir, diam, mencari jalan Bersemi atau gugur, dan mencari persimpangan Sudah lama hati tak lagi merindu jantung tak lagi berdegub sesukanya Ia diam, mungkin putus asa Dewasa itu menakutkan Terpaksa ku harus berpikir kenapa sendiri itu bukan pilihan Tunggu dulu, apa salahnya? Bukankah takaran bahagia berbeda rupa? Kenapa kau paksakan sosial mengerucutkan angan-angan? Entah untuk siapa, Seolah suara ini tak bermakna Semoga saja, Hati pulih dan tak lagi dibalut kemelut - devi Simbolon