Postingan

KANDAS - Cerita Pendek (Cerpen)

Gambar
Senyap malam kali ini tiada tanding. Jangkrik seolah enggan adu suara tak seperti sedia kala. Malam yang panjang pun akan berlalu juga, desahku. Berbaring di atas dipan lalu berdiri menghadap bulan, kuulangi aktivitas seperti orang linglung tersesat di pikiran sendiri. Apa yang kau sesali? Bukankah semua ini inginmu? Sudah terjadi kenapa malah bersedih? Batinku seolah meronta-ronta tak sanggup menerima keputusan yang kuambil siang tadi kala perdebatan panjang dengan Ibu. Tok..tok…tok…, “ Mas.. ” suara lirih ibu terdengar di balik pintu kayu sebuah kamar kecil yang ku huni. “ Tak apa, ibu akan baik-baik saja tadi hanya terbawa emosi. Pergilah Mas, kejar anganmu ”, wanita renta itu mengakhiri ucapannya lalu berdeham pelan. Lambat laun tak terdengar suara sama sekali. Aku berjalan menghampiri sosok di balik pintu yang ku yakin masih menunggu kehadiranku. “ Aku pasti pulang bu, tak usah gusar hati mu. Anakmu ini tahu diri. Kelak saat aku pulang ku belikan songket seperti Bi...

Celotehan Berbobot Najwa Shihab dan Agnes Mo: Tentang Perempuan dan Anak Muda

Gambar
Isu tentang kesetaraan gender sepertinya masih akan terus hangat dibicarakan di ruang publik selama komparasi antara pria dan wanita terus terjadi. Patriarki yang mengakar memang akan menjerumuskan kita pada kesalahan berpikir tentang bagaimana posisi dan kodrat pria dan wanita seharusnya berada. Munculnya gerakan feminis sebenarnya bukan mengerdilkan derajat kaum adam melainkan empowering wanita sebagai kaum yang setara namun tidak sama dengan pria. Bicara tentang kesetaraan bukan berarti persamaan. Perbedaan adalah karakter yang memang wanita dan pria harus terima. Isu kesetaraan tidak sebatas sama-sama harus berada pada posisi yang sama, tapi menitik beratkan pada keadilan dalam setiap perbedaan yang ada. Setelah menonton video Youtube di channel Narasi yang berisi celotehan berbobot antara Najwa Shihab dan Agnez Mo, saya semakin percaya bahwa baik wanita maupun pria memiliki freedom untuk bermimpi. Siapa pun bisa menjadi apa yang dia impikan tidak terkecuali wanita dan...

BJ. Habibie, Si Mata Jenaka Itu Kini Bersua Kembali Dengan Gula Jawa-nya

Gambar
Setelah kepergian Ibu Negara Indonesia ke-6 mendiang Kristiani Herrawati atau akrab disapa Ani Yudhoyono pada 1 Juni 2019 lalu, Indonesia kembali mengibarkan bendera setengah tiang. Lambang berkabungnya negri ini. Ibu pertiwi kembali menangis melepas duka atas kepergian salah satu Putra terbaiknya, BJ. Habibie pada Rabu, 11 September 2019 di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, bapak teknologi Indonesia juga seorang ilmuwan kelas dunia yang pola pikirnya tak main-main memandang masa depan. Cita-cita dan visi-misi nya memberantas keterpurukan bangsa ini dari segala persoalan yang terjadi. Masa jabatan BJ. Habibie sebagai presiden memang menjadi periode paling singkat dalam sejarah pemerintahan Indonesia, namun kebijakan-kebijakannya ‘bersuara’ bahkan di kancah internasional. Wajar saja kepergian Habibie menggemparkan seluruh nusantara bahkan luar negri. Jasa, ilmu, serta pemikiran yang beliau titipkan selama hidupnya akan menjadi ase...

Perasaan yang lupa kau tuai - Puisi

Lama tak bermain dengan kata-kata Jelas terasa sangat nyata Apa gerangan, masih ku belum berpaling dari mu Tentang mu masih sempurna terlukis di kanvas ingatan ku Aku di sini, kota kecil di tanah Pasundan Kamu di mana? Ibu kota terlalu luas untuk ditelusuri Rindu ku padamu tak bertuan Rasa muncul namun tak punya tempat untuk pulang Rindu tak bertuan, Tak tau arah kemana harus pulang Ulangi lagi ingin ku perbaiki Kesalahan, kekanak-kanakan, ingin ku buat sempurna Mengapa rasa gugur, tak bersemi? Adilkah menanggung rasa seorang diri? Ingin ku berlari, teriak menerjang badai Mengapa semudah itu kau lupakanku? Sudahkah hancur lebur kenangan kala itu? Aku merasa hanya jadi korban Korban perasaan yang kau tanam, namun lupa untuk kau tuai - devi Simbolon

Ketika Merindu Dirindukan - Puisi

Tentang rasa yang bersemayam Tak pernah ia tanya siapa yang jadi tuannya Hadir, diam, mencari jalan Bersemi atau gugur, dan mencari persimpangan Sudah lama hati tak lagi merindu jantung tak lagi berdegub sesukanya Ia diam, mungkin putus asa Dewasa itu menakutkan Terpaksa ku harus berpikir kenapa sendiri itu bukan pilihan Tunggu dulu, apa salahnya? Bukankah takaran bahagia berbeda rupa? Kenapa kau paksakan sosial mengerucutkan angan-angan? Entah untuk siapa, Seolah suara ini tak bermakna Semoga saja, Hati pulih dan tak lagi dibalut kemelut - devi Simbolon

Dunia ku kejam, kawan - Puisi

Sepi sekali ku rasa Mencekam seperti di hutan Oh dunia, beginikah dirimu yang sebenarnya? Inikah makna yang harus ku pahami? Tak kusangka semelarat ini cerita ku berlanjut Ku ubah diri tapi aku masih yang dulu Bagaimana seperti mereka? Dikumandangi haha hihi seiya sekata Ku ubah diri tapi aku masih sama Bagaimana seperti mereka? Haruskah aku bertanya lagi? Oh dunia, tak kusangka kau menjauh Cerita hidupku sudah tak menarik, Ingin ku bakar skenario yang tercipta, begitu membosankan, bukan? Kau datang, berpikir keras melaluinya, kemudian pulang menyesalinya Esoknya begitu lagi, Ku rasa aku tiba di titik jenuh masa hidupku Salahkah aku begini? Jawab aku atau aku pergi? Dunia terlalu kejam, kawan - devi Simbolon

Sang Penolak Tradisi - Cerita Pendek (Cerpen)

Gambar
Tepat di tahun ke 29 Nia menapak dan bermukim di bumi. Angka 29 berarti setahun lagi mencapai kepala tiga. Angka haram yang ditakutinya. ‘Akan bagaimana lagi tahun ini? Siapa lagi yang menggerutu selain Ibu dan mbak Ratih?’ Desahnya ditemani dentingan jam dinding kuno berwarna kuning yang memudar hingga terlihat coklat. Baginya, hidup menjadi dewasa sangat menyeramkan. Ia tak paham mengapa ia harus menjadi apa yang Ibu dan mbak Ratih harapkan. Mengapa semesta tak bisa dibantah dengan komitmen? ‘Haruskah berbaur dengan ketakutan dan berteman dengan penderitaan yang selama ini hinggap dan berdiam dalam pikiran ini? Aku tak ingin menikah!’ Tekadnya dalam hati.  "bu, sepertinya Nia mengurung diri" Ratih yang sedang menyiapkan makanan di meja makan langsung angkat bicara setelah berulang kali memastikan matahari sudah benar-benar terbit dari ujung jendela kayu yang sudah reot dan bunyi memprihatinkan.  "sudahlah, nanti kalau lapar pasti keluar. Ibu lelah beradu mul...